Blogger news

Life is like camera. Focus on what's important. Capture the good times. Develop from the negatives. And if things don't work out, just take another shoot

Kamis, 01 Oktober 2015

:(

The hardest thing about losing you is that it didn't just happen once. I lose you every single day that we don't speak. When I wake up in the morning and reach for my phone and hope to see a message that isn't there, and when I go to sleep at night after I realize that the only person I want to moan to about how crap my day was, isn't there. And I lose you in all of the moments in between, in all the hours of silence that go by where I do nothing but think of you, go to call you - but then I don't. I lose you when I watch certain films, listen to certain songs, and go to certain places that are all tainted with certain parts of you and how you make me feel. And I used to think I could only miss you when I was alone, but that's not true - I miss you when I am around someone else, too. because they aren't you. But you're always there....somewhere. I can't not think about you. It's only when I'm asleep that I get a break from it, from thinking and wanting and missing. But then I wake up following day, roll over, check my phone, see that you didn't text me and I just know I'm going to feel it all over again..

Senin, 31 Agustus 2015

Terimakasih



Terimakasih.
Iya, terimakasih. Sepertinya sudah saatnya aku harus mengucapkan terimakasih untuk semuanya. Seringkali aku membatalkan niatku untuk berterimakasih padamu, karena aku masih berharap untuk menjadi bagian ceritamu. Sahabatmu. Seringkali aku masih berharap bisa menyebutmu sebagai seorang sahabat tanpa canggung, tanpa harus menggigit bibir karena harus mengingat pahit ‘status’ masalalu. Ah tapi sepertinya aku harus memupuskan harapanku. Kau berbeda. Jaaaaaauh berbeda dari seorang yang ku kenal lalu. Aku tak lagi bisa membagi ceritaku, aku tak sebebas dulu memburu rindu, kamu bukan lagi orang yang mau merangkulku untuk tenangkan emosiku, bahkan mungkin kamu sudah lupa bagaimana lirik lagu ‘hamtaro’ favoritku.
Mungkin semua salahku, terlalu menyakitimu. Bukan maksudku seperti itu. Aku takkan banyak memburumu dengan penjelasanku karena aku tahu itu tak lagi penting untukmu. Namun biarkan aku berterimakasih, terimakasih pernah menjadi bagian ceritaku. Menjadi seorang yang pernah mengusap air mataku. Seorang yang pernah terburu buru pergi menjemputku ke kos dengan tangan masih penuh sambal hanya karena mendengar suara parauku menangis di ujung telpon. Seorang yang pernah memelukku dalam rinai hujan. Seseorang yang rela berbagi sepiring nasi denganku. Seorang yang berlari dan tergesa gesa bersamaku saat sedang asyik makan di dekat danau hanya karena penjualnya terburu buru pergi menghindari kejaran satpol PP. Pria yang diam saja saat aku gemas dan menggit kuli tipis lengannya. Pria yang pernah benar benar menyayangiku.
Terimakasih untuk semua waktu yang pernah kau berikan.
Terimakasih untuk semua sedih senang tawa tangis, yang pernah kita bagi.
Terimakasih pernah menjadi seorang yang mau kugenggam dan kuremas jemarinya saat gundah menghampiriku.
Terimakasih untuk buku, coklat, bunga, warna warni peralatan menggambar, mie kuah, bakso, kulit ayam Mbak Supik dan jalan jalan malam kita.
Aku takkan lagi mencegahmu untuk berlari, karena memang seharusnya kamu berlari. Pergilah, berbahagialah. Jangan jadikan aku seorang yang selamanya membayangi kebahagiaanmu, aku bukan seorang yang pantas untuk berjalan seiring denganmu. Untuk segala yang pernah ku berikan dan yang pernah kau ambil dariku, aku mengikhlaskannya sepenuh hatiku. Untuk segenap hari hariku bersamamu, aku ucapkan syukur sebesar dunia ini mampu kutapaki kakiku untuk berjalan. Untuk setiap hal yang tak mampu ku berikan, termasuk rasa yang selalu ingin ku berikan – rasa yang selalu kucoba belajar untuk kutumbuhkan, aku mohon maaf. Percayalah, jauh dalam hatiku, aku menyayangimu sebagai seorang yang ingin selalu aku ajak berbagi. Ku harap, aku bisa selalu menyebutmu, Kakak, sahabat, teman, dan inyoku. Lebih dari itu, aku tak pernah bisa menjajikan apapun.
Terimakasih telah membiarkanku hadir, mengacaukan apa yang semesta ingin jalankan untukmu.
Aku merindukan sosok teman sepertimu.
Jika ku boleh meminta sesuatu, aku berharap aku tak pernah merubah status pertemanan kita menjadi status lain jika pada akhirnya aku harus kehilangan orang sepertimu.
Jika aku boleh kembali dan memperbaiki semuanya, aku ingin kembali dimana saat kita saling tak canggung menyebutkan nama orang yang sedang mengisi hati kita. Bukan aku, bukan kamu.
Jika aku diizinkan untuk memohon dan kan kau kabulkan, aku mohon jadilah temanku, lagi.

Rabu, 05 Agustus 2015

jarak. dan sebuah jawaban.

aku tak pernah benar benar memilikimu, dan entah dengan apa caramu kau berhasil memilikiku.
kau berhasil membawa 'sebuah hati'.
hatiku.

dan kau membuatku merindukanmu.

hilang.

dengan perpisahan paling manis yang mampu kau berikan.
3 detik. 3 detik saja. kau berhasil membuatku memipikanmu dalam lelap dan terjagaku.

rinduku, lebih menyiksa dari rindu manapun yang pernah aku rasakan.

aku tahu bintang tak pernah hilang. begitupun kamu.
namun awan gelap yang datang, tetap tak pernah membuatku tenang.
tanpa kabar, kau hilang.

baiklah.
aku tahu, kau takkan pernah menyebut ini sebuah perpisahan. karena akupun tak mau menyebutnya begitu.

aku tak pernah tau apa yang bergulir di hatimu, harimu, saat jarak ini mengacaukan jangkauku padamu.

karena aku tak pernah benar benar memilikimu. dan aku tak pernah benar benar tau isi hatimu. biarkan aku mengharapkan satu hal.

jika satu hari nanti, pertemuan itu hadir. ku berharap apapun isi hatimu, masih di dalam kadar yang sama seperti kita terakhir bertemu. karena kupastikan milikku masih sama, dan mungkin 'lebih banyak' berkembang karena ditetesi air air kerinduan.

namun apabila yang kau rasakan jauh berkurang bahkan hilang, yang ku tahu hanya satu hal. aku akan benar benar merelakanmu pergi, seperti yang selalu aku janjikan.

Rabu, 22 Juli 2015

Bahkan Untukmu, Aku Takkan Bisa Menjadi Egois..



Sejauh apapun aku melangkah, nyatanya aku tetap kembali. Sekeras apapun aku menghindar, nyatanya jeratmu selalu mendapatkanku. Sekuat tenaga aku mencoba pergi, nyatanya jalan itu tetap menuju padamu. Aku sudah mencobanya, membencimu, melupakanmu, menghapus bayanganmu, berpura pura tak mengingat namau, berpura pura tak mengenal siapa kamu, tak ada yang berhasil kulakukan. Yah, semuanya hanya berakhir dengan kepura puraan. Kau, sekeras apapun aku mencoba mengusirmu dari hatiku, otakku bahkan hidupku, sepertinya semesta tak pernah merestui usahaku – karena kau muncul dalam impianku, entah dalam lelapku atau saatku terjaga mimipiku masih menyerukan namamu. Aku menyerah, menyerah untuk menjauhkanmu dari hidupku.
Kau yang harusnya kuusir pergi dari hidupku nyatanya selalu kuundang lagi dan lagi. Mungkin ini cukup untuk membuatmu menyebutku sebagai wanita yang egois. Karena dalam segala sisi pun aku memang menahanmu, bahkan sekalipun aku menyuruhmu pergi nyatanya aku tetap ingin menarikmu kembali. Tapi tidak untukku, aku tak pernah menjadi egois. Aku tak pernah meraih apapun dari sesuatu yang mungkin siapa saja bisa menyebutnya keegoisanku karena tak membiarkanmu pergi. Aku hanya ingin menikmati waktu singkat yang kupunya bersamamu.
Ah, aku selalu terlampau percaya diri. Menyuruhmu pergi? Bahkan aku tak benar benar tau apakah kau pernah tinggal, bodohnya aku. Yah, bagaimana bisa aku mendeklarasikan kehadiranmu jika setengah dirimu saja tak pernah benar benar bersamaku? Bagaimana bisa aku seegois itu menyebut kau tinggal di hatiku sedangkan hatimu saja tergenggam di tangan yang bukan milikku? Kau milik orang lain. Aku tak pernah benar benar memiliki hadirmu, bahkan bayanganmu saja dengan susah payah aku meraihnya. Egoiskah aku?
Egoiskah aku?
Egoiskah aku jika menjadi wanita yang selalu ingin menjadi seorang pertama yang menghapus air matamu, menyudahi sedihmu, memeluk gundahmu bahkan jika semua itu akibat kekasihmu? Egoiskah aku jika aku menahan air mataku, mencoba membantumu, meringankan bebanmu saat amarah sedang melanda kamu dan kekasihmu? Mungkin kamu tak pernah tahu, dilemma besar apa yang selalu berkecamuk dalam hatiku saat kau sedang menumpahkan amarahmu kepada kekasihmu melalui cerita cerita di pesan singkatmu – aku ingin meringankan bebanmu dan membantumu, menyudahi rasa kesalmu mungkin kepedihanmu, padahal jauh di lubuk hatiku aku sedang melukai hatiku sendiri. Aku sedang menyakiti diriku sendiri. Bagaimana bisa aku menjadi egois dengan keadaan seperti itu? Tentu aku egois, dengan cara itu aku membuatmu tetap tinggal bersamaku. Dengan cara melukai hatiku sendiri, aku menahanmu.
Berkali kali aku dengar teman temanku berkata mencintaimu sama saja melukai diriku sendiri. Nyatanya lukaku yang membuatmu tak pergi. Dengan menghapus lukamu – sekalipun itu menyakitiku, telah membuatmu bertahan lebih lama disisiku. Ingatkah? Aku pernah memohon untuk sekali saja menjadi seorang wanita egois? Lupakan. Lupakan hal itu. Aku takkan memintamu untuk melepas pelukanmu dari wanita itu. Aku takkan meminta hatimu untuk kupeluk, aku takkan berharap bisa memilikimu. Tapi biarkan, aku menikmati waktu yang kupunya bersamamu. Aku tahu, aku hanya tamu dalam rumahmu, yang terlamapau merasa nyaman hingga enggan melangkah pergi. Aku sadar kapanpun kamu atau parahnya, wanitamu, bisa mengusirku pergi. Cepat atau lambat, entah aku entah kamu yang akan melangkah pergi. Tapi untuk kali ini saja, selagi aku masih sanggup menahan luka hatiku untuk mendengar ceritamu, selagi aku sanggup tersenyum walaupun ada air mata yang kutahan, selagi aku sanggup untuk menyebutmu hanya sekedar teman walaupun aku mencintaimu lebih dari yang aku tunjukkan, selagi aku mampu menahan keeogisanku untuk memilikimu, biarkan aku menikmati waktuku bersamamu walau tak pernah kupeluk nyatamu bahkan setengah bayanganmu :’)
Bagaimana bisa aku menjadi seorang wanita yang egois? Bahkan saat kau sedang megeluhkan gundahmu, amarahmu pada wanitamu yang ku mampu hanya menenangkanmu, tanpa pernah kucoba untuk membuatmu melepas genggamanmu pada kekasihmu. Aku tak semampu itu, aku tak setega itu, aku takkan membiarkanmu terluka, aku takkan tega membayangkan kau semakin bersedih jika ia lepas dari genggammu – meskipun jauh dalam hatiku, aku bersumpah jika aku yang ada di genggamanmu tak kan kubiarkan telapakmu berdarah oleh sentuhku, aku bisa menjadi lebih baik dari kekasihmu. Tapi untukmu, aku tak bisa menjadi seegois itu...
Dari seorang wanita paling munafik, karena membiarkan dirinya sendiri terluka dan berpura pura tak kenal rasa luka hanya untuk memeluk seorang pria yang terluka karena wanitanya.
Aku mencintaimu.

Selasa, 21 Juli 2015

Surat Terbuka (untuk pria): Hei, Jangan Kau Petik Bunga jika Kau tak Benar Benar Ingin Memilikinya.



Hai, ini ku tulis untukmu – siapapun kamu, jika kamu seorang pria. Dan hai, ini ku persembahkan untukmu, untuk hatimu – siapapun kamu, jika kamu seorang  wanita.

Aku tidak sedang ingin menghakimi siapapun, bukan ku tulis untuk menyindir atau melimpahkan kekesalan pada satu pihak. Aku hanya ingin berbagi apa yang ada dalam benakku – dan mungkin banyak wanita lain ingin ungkapkan. Tentang hati dan pencurinya – sadar atau tidak sadar sang pencuri dalam mengambil alih benda rentan itu.
Hai pria, mari kita sedikit berbicara tentang hati seorang wanita. Tentang benda rentan yang mungkin tidak sengaja kau ambil alih dan membuatnya terluka, tentang benda rentan yang mungkin hanya ingin sedikit kau sentuh namun berakhir dengan kau gores hinggah berdarah, tentang benda rentan yang mungkin tak sengaja kau curi namun tak pernah lagi kau kembalikan, tentang benda rentan yang mungkin memang ingin kau miliki namun pada akhirnya kau membuatnya terbengkalai dan menelantarkannya, yah benda itu hati wanita.
Aku, mewakili wanita-wanita yang hatinya tak sengaja terluka karena telah tidak sengaja dicuri oleh seorang pria.
Hati wanita terluka, tentu saja kurasa ia jatuh pada orang yang salah. Mungkin mereka terlihat begitu ceroboh karena menjatuhkannya begitu saja, kepada orang yang tak mungkin menangkapnya. Namun, seharusnya kalian tahu, tak semudah itu wanita untuk menjatuhkannya. Logikanya seringkali mengingatkannya, tentang betapa sakitnya tejatuh, namun pria itu, seakan berbisik ‘kau takkan pernah jatuh, karena kau akan terbang’. Maka, voilaaaaa... wanita menjatuhkan dirinya, dan terlukalah ia.
Tentu saja wanita tak sebodoh itu, ah atau mungkin wanita terlalu berharap. Ya terlalu berharap – hei pria, wanita tak mungkin banyak berharap jika kamu tak memercikkan sinar harapan. Manusia tak akan memohon satu permintaan jika tak ada bintang yang terjatuh. Kamu, tentu saja yang memulainya. Wanita, tak semudah itu menjatuhkan hatinya, ia menjatuhkannya karena kamu mendorongnya – sengaja atau tidak sengaja. Dan semua itu semakin menjadi-jadi saat kau terlihat akan menangkapnya.
Hei pria, tolong jangan curi hati kami dengan perhatian perhatian kecil yang tak seharusnya kamu berikan. Jika kamu hanya ingin ‘bersikap baik’ kepada kami maka tegaskan tujuanmu. Kami bukan makhluk yang diberkati untuk menebak semua maksud baik seorang pria. Kau harus tau betapa susahnya menjadi seorang wanita. Mungkin dengan enak saja kau menebar perhatian, sedangkan kami disini bertanya tanya apa maksud dan tujuanmu. Kami begitu serba salah jika ingin menyikapi sebuah perhatian seorang pria jika kamu tak menegaskan tujuanmu. Ingin bersikap biasa saja menyikapi perhatianmu padahal kamu sebenarnya memang sedang berusaha mencuri hati kami (dan kami tidak tahu) kau bilang kami ngga peka. Sekalinya kami terjatuh karena perhatian (yang kamu berikan hanya karena ingin bersikap baik) kau bilang kami baperan. Jadi, tolong sekali lagi, pertegas tujuanmu. Jangan kau curi hati kami jika kamu tak benar benar ingin memilikinya.
Hei pria, tolong pertegas perasaanmu. Sekali lagi, kami bukan cenayang yang bisa menebak perasaanmu memalui tingkahmu. Mungkin kau sedang berusaha untuk tak melukai hati kami dengan tidak berkata jujur tentang perasaanmu. Tapi ketahuilah, kami lebih menghargai kenyataan yang pahit daripada terjerembab lebih lama karena kau tak pernah tegas dengan perasaanmu dan terus bersikap manis. hei, too much sweets can make you FAT. Sekali lagi, jika memang tujuanmu hadir dan datang bukan untuk mencuri hati seorang wanita (namun tanpa sengaja kau telah mencurinya), lepaskan, berikan kembali hati itu jika memang kau tak berniat merawatnya. Jangan semakin kau genggam dengan alasan kata ‘nyaman’ lalu saat ‘nyaman’ itu hilang begitu saja kau tinggal dan kau telantarkan hati itu. Kau tahu, itu menyakitkan – lebih menyakitkan dari sebuah penolakan.
Jangan bermain dengan hati yang telah tak sengaja berhasil kau curi. Pria, ada kalanya begitu merasa dirinya hebat saat ia (tak sengaja) berhasil mencuri hati seorang wanita. Tapi tolong, jangan permainkan hati itu. Tentu suatu kebanggaan bukan? Saat ada seorang wanita yang hatinya terjatuh padamu, mengejarmu? Alangkah baiknya kau jika dengan baik hati mengangkap dan menjaganya. Namun sungguh terkutuklah kamu, jika kau menerbangkannya namun tak benar benar bermaksud menyelamatkannya saat ia terjatuh. Sungguh, jangan kau terbangkan dan tunjukkan indahnya terbang bersama jika pada akhirnya kau menjatuhkannya ke tanah dan membiarkannya terpecah belah. Kami begitu muak dengan “kita jalani dulu aja ya” – “jodoh ga kemana kok” dan setelah jalan beberapa waktu, kau – pria, menghilang begitu saja. Ya kau mengajari terbang, tapi tak pernah kau ajarkan mendarat dengan selamat.
Hei, jadilah seorang pria yang bertanggung jawab. Sengaja atau tak sengaja kau mencuri hati seorang wanita, bertanggung jawablah. Mungkin kau tak sengaja mencuri hatinya, lalu ternyata hatimu telah tercuri olehnya – maka jaga hatinya, rawat dan jangan biarkan ia terhuyung huyung, tuntun hatinya untuk jatuh ke tempat yang tepat – pelukanmu. Namun kalau memang bukan tujuanmu untuk mencuri hatinya, dan bahkan pesona wanita tersebut tak mampu mencuri hatimu, lepaskan, kembalikan hatinya, karena kau sudah menyelamatkan hatinya dari jatuh kepada orang yang tidak tepat, maka ia akan menyembuhkan hatinya sendiri tanpa mengutuk namamu. Dan jika memang tujuanmu untuk mencuri hatinya, dan ia menjatuhkanya untukmu, dan kau berhasil menangkapnya, rawat hatinya – maka berikan hatimu padanya, ia akan merawatnya, selayaknya kamu merawat hatinya.
Yang kami inginkan hanya sebuah kepastian.
Jangan kau curi hati jika kau tak benar benar ingin merawatnya.