Life is short, live it. Love is a rare, grab it. Anger is bad, dump it. Fear is awful, face it. Memories are sweet, cherish it.
Life is like camera. Focus on what's important. Capture the good times. Develop from the negatives. And if things don't work out, just take another shoot

Senin, 07 Januari 2013

Alasan Kenapa Aku Begitu Mencintainya..

Cerpen ini cerpen favorite yang aku tulis, pernah aku pos di blogger lamaku. Cerpen ini cerita nyata yang aku jalani bersama seorang yang jauh dari penglihatan mataku, namun selalu dekat di hatiku. cerita ini masih mampu membuatku tersenyum dan menangis dalam waktu yang bersamaan saat aku mengingat detail yang benar benar aku alami terulang kembali dalam memori otakku. 
cerita cintaku, alasan mengapa aku mencintai sosok bermata sipit dari kota Semarang, Ivan Septy Ardhana. silahkan membaca dan menikmati :)



             ALASAN  KENAPA AKU BEGITU MENCINTAINYA..



Secercah bayang masalalu..

Di tengah perih hatinya, gadis ini berusaha bangkit tegar dan terus berjalan membawa sisa sisa harapan yang berusaha ia genggam, cinta yang ia harapkan sedikit sedikit luntur di terpa rasa sakit. Senyum palsu yang ia kembangkan lama kelamaanpun lelah ia pamerkan. Lelah hatinya untuk sekedar berbasa basi dengan cinta yang membuatnya menangis tiap ia mengingatnya.
Di lain sisi, hatinya belum sepenuhnya bisa melupakan cinta yang ia perjuangkan sendiri itu. Dia belum bisa melupakan semesta kecil yang ia ciptakan bersama angan dengan cinta yang tak kunjung berbalas itu.
Entah apa yang membuat dunia kecilnya menjadi terkotak kotak, dunia nyata, dunia mimpi dan khayalan, dan dunia yang maya yang tak pernah lupa ia kunjungi. Setiap hari ia sempatkan untuk bercerita kepada kawan kawan yang rupa saja ia tak tahu melalui jejaring sosial apapun :D berharap ada yang mampu mengerti tentang kegalauan hatinya.
Dan, akhirnya sebuah jendela percakapan di chat sebuah jejaring sosial membawanya kedunia yang baru, menemukan takdirnya yang baru.
Profil miliknya “Eno Sulistia” terlihat di layar laptopnya, akun sebuah jaring sosial yang sering ia kunjungi, di jelajahinya pemberitahuan, permintaan pertemanan, dan beranda jaring sosial itu. Permintaan pertemanan yang menumpuk itu ia seleksi satu persatu, nama nama alay ia hiraukan dan acuhkan sepenuhnya. Selang hembusan nafas kemudian sebuah sapaan muncul dari kotak dialog chat, diliriknya sejenak, “Ehm”, sapa seorang dari tempat yang ia tak tahu. Dengan malas ia tutup kotak dialog tersebut, ia hempaskan tubuhnya ke bangku kelasnya. Tak berapa lama, dari kotak dialog yang sama sebuah kalimat menarik hati Eno untuk bercakap dengan pemilik akun yang menyapanya, “temennya Gun yah?” kata pemilik akunyang menampilkan nama ‘Dana Ardhana’ di kotak dialog tersebut. “iyah, uhm dia udah kayak adikku.” Ketik Eno cepat. “kamu sapanya?” lanjut Eno. “oh aku temennya, kamu mantannya Gun kan?” “ah iya aku mantannya, deket sama Gun? Gun itu pacarnya sahabatku sekarang.” Dan akhirnya obrolan obrolan singkat itu berubah menjadi gurauan gurauan hangat diantara keduanya. Tapi itu hanya berlalu dalam hitungan jam.

Somebody Outthere..

Jauh di seberang provinsi, seorang cowok sedang sibuk mengotak atik Blackberry putih miliknya. Iseng iseng dia mulai membuka jendela kotak dialog untuk seorang gadis yang baru saja menerima permintaan pertemanan darinya, Dana Ardhana seorang cowok berwajah oriental dari kota Semarang itu, memulai pembicaraan pada pemilik akun ‘Eno sulistia’ di kotak dialog facebook miliknya. Diketahui olehnya Eno Sulistia adalah teman akrab sahabatnya, Gun Prabowo yang kini berpacaran dengan sahabat Eno, Qoni. “Ehm” sapanya. Tapi lama tak mendapat jawaban. Tak putus asa ia mulai memberikan percakapan lain, dan berhasil Eno akhirnya tertarik untuk ngobrol dengannya. Eno cewek Surabaya itu, entah bagaimana caranya telah menarik hati seorang Dana dengan sikap Eno yang easy going membuat Dana cepat akrab dengan Eno. Menit menit berlalu, lontaran guaruan tercipta di antara mereka. Tapi itu tak berlangsung lama, karena percakapan singkat maya itu harus berakhir karena keduanya harus kembali kedunia nyata mereka, kedunia yang sesungguhnya.
Setelah pertemuan maya tersebut, kian hari Dana semakin penasaran akan sosok Eno yang ia kenal ceria di chat facebook, tapi tulisan tulisannya di status jejaring sosialnya terlihat berbeda 180 derajat dengan Eno yang ia kenal di chat Fecebook. Semua tulisan Eno memperlihatkan kegalauan dan pesakitan mendalam dalam hatinya, hati Dana mulai bersimpatik tak ingin melihat Eno sedih dan bersembunyi dalam senyum palsunya.
Sejak saat itu Dana meberikan penuh perhatiannya pada Eno walaupun hanya melalui pertemuan mayanya. Dana yang saat itu juga dalam keadaan dekat dengan teman sekolahnya, teralihkan perhatiannya kepada Eno, Dana merasakan sebuah getaran yang ia raskan saat bercakap maya dengan Eno. Ia mulai membuka tabir sakit hati yang mendera Eno, diketahuinya kegalauan Eno itu karena perasaan Eno yang tak terbalas cintanya oleh adik kelasnya. Semakin hari semakin Dana ingin mengurangi beban itu, ia tak ingin Eno memikirkan orang yang tak memikirkannya.

Waiting for Yesertday

Bagaikan angin lalu, perkenalan itu terbang begitu saja hilang dari angan Eno. Hatinya kembali tertuju pada cinta dan sakit hatinya. Apapun yang ia fikirkan ia tuangkan dalam tulisan tulisan galaunya di berbagai akun jejaring sosial yang ia punya. Tak sadar olehnya, seseorang nan jauh disana mengikuti setiap aktifitasnya dari facebook bahkan twitter. Seseorang itu tak lain Dana. Entah apa yang membuat cowok ini mengikuti detail aktifitas galau Eno. Tapi, Eno tetap tak menyadari. Ia semakin larut dalam penantian.
Selang beberapa hari, saat Eno asik berkutat dengan laptopnya kembali muncul kotak dialog dengan pemilik yang sama seperti pagi itu. “Ehm” sapa Dana dari seberang sana. “uhukk” balas Eno. “ih kayak nenek nenek” gurau Dana. “wuh, kamu tuh kayak kakek kakek” Eno tak mau kalah. Akhirnya mereka kembali masuk ke takdir yang membuat mereka hangat dalam setiap tulisan kecil maya mereka. Entah dari mana asal desiran angin kecil yang membuat bibir Eno tersungging senyum kecil saat Dana melontarkan gurau kelakarnya melalui pertemuan maya mereka. Nyaman. Damai menghampiri, sejenak dengan pertemuan singkat maya mereka membuat lupa Eno tentang sakit hatinya. Mungkin ini saatnya.
Lagi lagi buncah senyum terlukis jelas di raut wajah Eno, bukan, bukan lagi senyum palsu yang biasa ia pamerkan. Senyum ini tulus ia persembahkan untuk seseorang yang selalu memberikan perhatian perhatian kecil melalui pertemuan dan tulisan maya di akun facebook Eno. Senyum itu selalu ia sunggingkan saat jemarinya lincah menari di atas keyboard laptopnya dalam perbincangan mayanya bersama Dana. Tak peduli apakah Dana pun membalas senyumnya, tapi ia merasa berbeda dengan perjumpaan mayanya. Sekali lagi, Eno terlena, terlupa akan rasa sakitnya.
Selang beberapa hari berlalu, pertemuan maya itu selalu terlaksana tanpa perjanjian sebelumnya, seperti sudah terjadwal untuk datang berkunjung ke facebook keduanya selalu saling bertemu untuk saling bertegur sapa dalam maya. Ada gejolak tersendiri di hati Eno, seperti kupu kupu sedang menari dalam perutnya, ia menjadi begitu gelisah dengan hatinya. Ia bingung dengan apa yang ia rasakan. Dia tau, sadar akan hatinya yang belum siap untuk menciptakan semesta baru, hatinya masih begitu rapuh, hatinya masih begitu tertahan oleh medan magnet cinta yang neruntuhkan setiap asanya, masih tentang masalalunya. Tapi tak ia pungkiri, hati itu mulai tertata rapi saat ia melakukan perjumpaan maya dengan Dana. Ah, tidak, Eno takkan membuat Dana terluka dengan semesta maya diantara mereka, Eno mengekalkan hatinya, Dana hanya teman facebooknya bukan pelipur lara baginya.
Dana yang selalu mengikuti tulisan tulisan Eno yang penuh kegalauan, seperti menemukan rasa simpati yang ingin ia ubah menjadi sebuah perhatian kepada Eno. Tapi Dana takkan pernah mengetahui, ketakutan Eno terhadap detail perhatian Dana padanya. Eno takut, Dana akan terluka. Eno masih belum bisa merubah semestanya dengan kehadiran Dana, semesta itu masih tentang masalalunya.
Tak disangka, kini keduanya mulai merambah pertemuan bukan hanya via facebook, handphone mereka saling terisi pesan pesan singkat maya mereka. Dua sejoli yang sama sama duduk di bangku SMA ini tak menyadari setiap SMS yang mereka ciptakan memberikan sensasi tersendiri bagi keduanya.
Perhatian perhatian kecil mulai berubah menjadi posesif dalam hati. Entah, mungkin ini saatnya bagi Eno melepas semesta masalalunya. Begitu nyaman dengan kehadiran Dana dalam hari harinya sejenak membawa Eno dalam sebuah perasaan di sayangi. Semakin hari semakin akrab saja keduanya, tapi tetap saja hati Eno terlalu takut unuk memulai semesta baru bersama Dana. Eno menyebutnya, hanya sahabat. Ada banyak hal menyakitkan dalam status hanya sahabat itu, seiring berjalannya posesif kepemilikan dalam hati.

Crush..

Suatu pagi membawa Eno kembali terjerat pada semesta masalalunya, sosok cowok putih dengan topi yang menutupi sebagian alis mata tebalnya, sedang berdiri di depan pintu kelas Eno. Cowok itu menyilangkan kedua lengannya di depan dada bidangnya. “Kak, aku mau ngomong.” Kata sosok itu berjalan gontai kearah Eno. Di tariknya tangan Eno lembut, dituntunnya Eno ke sebuah bangku di depan kelas Eno. Eno tak berkedip melihat sosok di depannya, ada apa gerangan pagi pagi begini menghampiarinya. “mau ngomong apa Ram?” kata Eno gugup. “kak. Udah yah, ga usah mikiri aku lagi, aku kasian liat kakak ke siksa dengan cinta yang ga mungkin bisa aku bales, aku suka orang lain, salahku memang pernah memberikan harapan sama kakak. Tap please kak, lupain aku.” Ucap Rama, sakit hati Eno mendengarnya. “dan satu lagi, gausah bikin tulisan tulisan tentang aku di jejaring sosialmu! Aku tau kamu sayang aku kak Eno, tapi udahlah. Aku ga bisa.” Ucap Rama sambil pergi berlalu. Dari pagi itu, tak hentinya tetetsan bening air mata mengalir di pipi Eno. Di utarakan semua sakit hatinya dan ia ceritakan pada Dana.
Dana selalu berusaha membuat Eno berhenti menangisi masalalunya, tapi pesakitan itu membuat Eno semakin susah untuk melupakan maslalunya. Tapi, Tuhan selelu bisa merubah dan membolak balikkan hati manusiaNya. Dengan usaha sedikit alot, Dana berhasil mencuri perhatian Eno. Eno yang sempat mengasingkan diri beberapa hari di desa kelahiran ibunya, hanya menghabiskan waktu untuk saling mengisi hari bersama Dana melalui SMS, facebook dan twitter. Lontaran guyonan selalu tercipta di antara mereka, sesekali hati Eno masih terngiang sakitnya ditelantarkan orang yang begitu ia cinta. Tanpa sepengetahuan Dana, Eno masi sering menagis kecil dalam diamnya. Matanya masih sering basah oleh air mata, tapi ia berusaha terlihat tegar dimata Dana melalui kelakar di SMS mereka.
Disaat Eno mulai merasakan lagi getaran getaran dalam hatinya saat ia tersenyum hanya dengan melihat SMS Dana, dia sadar ada sebuah rasa yang mulai tumbuh di antara mereka. Di balik semua itu ada perhatian besar yang saling mereka tujukan. Eno mulai menangkap sinyal sinyal yang sama dari perhatian Dana padanya. Eno menunggu apa lagi yang akan terjadi diantara mereka. Tapi ragu selalu menyergah hati Eno, dia masih saja terngiang akan sosok masalalunya. Jarak diantara mereka pun menjadi alasan keraguan lain dalam benak Eno, perbedaan diantara meraka jelas terlihat adanya.
Keyakinan untuk merubah semestanya semakin kuat, Eno belajar untuk melupakan Rama. Tapi itu butuh waktu, mengingat semua beban yang lama ia tanggung, susah rasanya Eno lepas dari belitan masalalu. Apalagi sebuah keraguan lain muncul saat Dana pergi dinner bersama orang yang pernah dekat dengan Dana. Sekali lagi, apakah Dana benar benar memiliki rasa untuknya,ia tak tau.
Malam itu berjalan sangat lambat. Di tatapnya jam dinding kamarnya, Eno kembali melayangkan asanya, kali ini bukan tentang maslalunya, ada fikiran lain yang mengganggu malam tenangnya. Membuncah puluhan pertanyaan di hati Eno, sedang apakah Dana malam ini? Bahagiakah ia bersama gadis itu? Apakah gadis itu yang akan menemukan hati Dana sebulum Eno? Kegelisahan begitu menjalar dihatinya.
Beberapa menit kemudian, bunyi hape Eno membuyarkan lamunannya. Di bacanya SMS dari orang yang sedari tadi ia tunggu.
“hey, aku uda pulang”- Dana.
“uhm, gimana makan malamnya? Seneng ya? Status fbnya bikin cemburu:D” – Eno.
Sedikit bercanda. Tapi itu yang dirasakan Eno malam itu.
“iyah, seneng koq.. ih nenek cengeng cemburu. Kalo cemburu kenapa aku ga di larang berangkat?”
Tanya Dana berharap Eno memang cemburu, Dana tau pasti Eno bercanda, tapi ia tahu ada persaan cemburu dalam hati Eno. Sebenarnya Dana pun ragu untuk pergi dinner, sebelumnya pun Dana minta izin ke Eno untuk pergi. Walaupun Eno mengizinkan, Dana tau semua itu setengah hati dilalakukan Eno.
“aku sapanya bawell? Kan bukan pacar, jadi ngapain nglarang nglarang :p” – Eno.
“yah gpp tah nek, bilang aja, aku ga akan berangkat kalo kamu ga ijinin. #bigbearhug. Emang mau jadi pacar aku biar bisa nglarang nglarang ?:p” – Dana.
Eno terbelalak melihat SMS Dana. Belum sempat ia membalas. Mungkin karena lama juga, Dana kembali meng sms Eno.
“Juskidd nek” – Dana.
hati Eno kembali ciut, senyum masam menghiasi bibirnya.
“hahaha, gpp :p umh Kek, aku tidur yah, ngantuk nih:D nite”
Sebenarnya Eno belum ingin mengistirahatkan matanya, tapi hatinya sedang berkecamuk tak karu karuan. Ia memutuskan untuk tidak menggantungkan harapan lagi, apalagi kepada orang yang belum pernah ia temui. Ia takut ini akan lebih menyakitkan dari maslaulunya.
Ada penyesalan menghampiri Dana. Kali ini dia merasakan gelisah. Kenapa Eno tiba tiba ingin tidur. Ah tapi apadaya. Dana ingin sekali mengungkapkan isi hatinya, agar Eno tahu sms sebelumnya bukan sekedar gurauan, tapi itu yang ia rasakan dalam hatinya, tapi Dana terlalu takut untuk menerima kenyataan, jadi ia mengatakan itu hanya gurauan. Kembali Dana mencoba peruntungannya untuk mengetahui hati Eno, di balasnya sms Eno.
“umh, yaudah, Nenek bobo gih :* love you :*” – Dana.
Hah. Kali ini Eno benar benar senang hatinya. Love you too. Ucap Eno dalam hati. Ia berharap tak ada sms Dana yang masuk lagi dan mengatakan hanya bercanda. Ditunggunya beberapa saat, tak ada sms dari Dana, apakah ini berarti Dana benar benar cinta dia. Oh Tuhan, rasanya ingin sekali Eno membalas pesan itu, tapi di urungkannya dan langsung pergi tidur.
Take my Hand..
Esok harinya, seperti hari hari biasanya, dengan masih menggenggam masalalu pahitnya beriringan dengan rasa cinta baru yang mulai bersemi di hatinya Eno melewati detik detik masa hidupnya. Dengan masih terngiang sms Dana semalam sebelumnya Eno tersenyum kecil dalam setiap lamunannya. Ia tahu,ia mulai menginginkan kenyataan lebih dari sekedar hanya sahabat. Demikian pula dengan Dana, ia ingin sekali mengungkapkan keinginannya untuk bersama Eno. Tapi keduanya masih sama sama ragu.
Sore itu, entah keyakinan apa yang membuat Dana berani mengutarakan isi hatinya pada Eno.
“nek, pacaran yuk. Serius nih” – Dana.
Kupu kupu berterbangan di hati Eno, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Secara kilat dan tanpa keraguan ia membalas SMS itu.
“aku mau kek :D” – Eno.
Sialnya sms Eno terjebak macet operator, ish sebal hati Eno. Dikirim berulan ulang SMS itu ke Dana.
*skip* Semarang..
Dana yang belum mendapat balasan dari Eno, mengira ini adalah sebuah penolakan dari Eno. Hampir saja ia putus asa, Dana yang saat itu sedang bersama Gun langsung mengutarakan ke khawatirannya kepada Gun.
“ hla Gun, nesu iki rasane Eno” ucapnya khawatir dengan logat Semarangnya. “ smsku rag di beles, salah iki aku Gun” lanjut Dana sambil menghela nafas kecewa. “ora ora Dan. Percaya neng aku, Eno iku yoh terisno marang kuwi” sergah Gun mengurangi kekhawatiran Dana. Risau makin menjalar dalam hati Dana, sampai pada akhirnya muncul sms dari Eno, yang pending berpuluh puluh masuk bersamaan di ponselnya. Ia terlonjak saat mengetahui Eno mau menjadi kekasihnya.
Dibalasnya cepat ke Eno.
“iyah iyah sayang, kita jadian yah. Ganti relationship di facebook yuk :*” – dana.
22 november 2011. Dana Ardhana dan Eno Sulistia Berpacaran.

I know I love you..

Ternyata status berpacaran mereka masih belum mampu menghapus semesta masalalu di benak Eno. Masih seringnya Eno membuat status facebook tentang masalalunya hingga hampir seminggu Eno dan Dana jadian membuat Dana geram. Dana sudah hampir menghentikan hubungan mereka, tapi Dana sadar setiap orang butuh waktu untuk berubah, Eno pun begitu. Dana berusaha menahan hatinya, ia memberikan kesabaran sepenuhnya untuk menghadapi kekasihnya ini.
Desember pun datang hari hari menjelang ulang tahun Dana, Eno menyiapkan hadiah khusus, Eno adalha gadis yang cukup lihai dalam masalah tulis menulis, Eno bingkaikan hadiah khusus untuk Dana. Berbeda dengan hadiah hadiah yang dulu sering ia berikan pada mantan mantan kekasihnya, kali ini, khusus untuk Dana, Eno menuliskan sebuah puisi  tulus dari hatinya. Ia siapkan dan akan ia kirim melalui note facebooknya kepada Dana. Hanya ini yang bisa ia berikan kepada seseorang yang telah merebut separuh perhatiaanya meskipun tak pernah bertemu secara nyata sebelumnya.
Hari istimewa itupun tiba, sehari sebelumnya puisi itu sudah di publikasisakan Eno untuk Dana, 3 menit sebelum pukul jam 12 malam Eno menelpon Dana untuk mengucapkan selamat ulang tahun. “happy birthday sayang” ucap Eno ngantuk tapi bersemangat. “makasi yah sayang” ucap Dana. Hening. Eno tak mampu berkata kata mendengar isakan tangis di seberang sana. Dana menangis. “aku makasi banget, sayang satu satunya pacar yang rela begadang Cuma buat ucapin selamat ulang tahun buatku. Aku sayang kamu.” Lanjut Dana. Hening. Eno masih terdiam, ia tak percaya akan mendengar Dana menagis, hatinya tersentuh, tetesan air mata Eno pun berlinang. Ia merasa begitu berdosa, apa yang ia lakukan selama ini? Masih saja memikirkan masalalu, sedangkan di sini disisinya ada Dana yang menyayanginya. Ini hanya pengorbanan kecil darinya untuk Dana, hanya menahan kantuk beberapa jam, itu tak sulit ia lakukan. Tapi Dana begitu menghargai usahanya, sedangkan dia? Dia mengacuhkan setiap pengorbanan hati Dana selama ini, membiarkan Dana terluka karena Eno tak kunjung melupakan masalalunya. Eno diam mematung, tapi airmatanya tak berhenti mengalir. Isak tangis keduanya menambah pilu malam itu. Eno menyadari bagaimana rasa sakit Dana yang ia sia siakan. Sejak detik itu, masalalu Eno benar benar ia hilangkan, ia hancurkan semestanya demi Dana. Ia tak ingin melukai kekasihnya ini, dia berjanji akan tulus mencintai Dana. “sayang maafin aku udah nyianyiain cinta tulusmu buat aku” isak Eno dalam tangis.”aku janji aku akan lupakan masalaluku demi kamu, aku cinta kamu,” lanjut Eno.
Sejak saat itu, Eno bagaikan tersihir oleh mantra cinta. Ia benar benar tak mengacuhkan masalalunya, ia hanya menjadi milik Dana. Sosok yang ia cintai tanpa sebuah pertemuan nyata. Ia mengahamburkan dan melemparkan masalalunya ke dinding pengacuhan.
*skip* suatu malam dalam percakapan telpon..
“sayang, aku mau nemuin kamu di Surabaya”
“loh, tapikan jauh, sayang kesini sama siapa?”
“nda, nda ada yang jauh buat sayang, sama Gun aku kesana.”
“uhm, iyah.” Senyum Eno mulai terkembang.
“tunggu aku yah sayang..”
Perih Cinta..
Cinta itu kini benar benar menjerat kedua belia yang terpisah oleh puluhankilometer  jarak diantara mereka. Jarak belum memperlihatkan peran antagonisnya, jarak masih bersahabat, walaupun jarak selalu menghalangi tatap mata keduanya. Eno benar benar jatuh cinta kepada orang yang belum ia ketahui perawakan aslinya, Eno jatuh cinta pada hati Dana, pada semua detail Dana dalam asa Eno.
Jarak memang bukan musuh utama dalam hubungan mereka, sebuah perbedaan besar diantara merekalah yang selalu berusaha memisahkan cinta mereka. Sebenarnya, bukan salah perbedaan itu, bukan salah mereka juga. Tak ada yang patut di salahkan disini.
Mereka terlahir dari dua keyakinan berbeda, dan di pertemukan olah sebuah takdir Tuhan, perbedaan ini yang selalu menghantui mereka. Tapi apakah mereka pantas untuk di cerca? Bukan kan perbedaan ada untuk saling melengkapi? Salahkah cinta mereka? Dana yang beragama Nasrani dan Eno yang Muslim apakah salah mereka saling mengikat janji?
Ah.. banyak pihak yang menyangsikan hubungan mereka, memandang sebelah mata akan tulus cinta kasih mereka. Bukankah Tuhan mereka tetap satu, namun hanya saja mereka memanggil namaNya dengan nama yang berbeda, apakah salah mereka mepersatukan janji indah ?
Dalam siksa cercaan dari berbagai pihak, kedua remaja ini terus mempertahankan apa yang mereka sebut cinta. Banyak pendapat yang berusaha mereka pecahkan, mempertahankan keyakinan hati mereka. Dan Tuhan memang akan Maha Adil kepada makhluknya, apapun yang disatukan oleh Tuhan takkan mudah di goyahkan oleh manusia. Begitu pun cinta mereka, cinta mereka bersatu karena takdir Tuhan, maka takkan ada yang mampu memisahkan selain takdir itu sendiri.
Selang waktu berlalu, picingan mata terhadap mereka semakin berkurang, sayap sayap cinta mereka kembali terkembang, kian hari kian menjadi sebuah kemesraan yang begitu mendalam. Cinta mereka mampu bertahan, mereka buktikan pada dunia, perbedaanlah yang akan menjaga cinta mereka.

Sebuah Pertemuan

Masih teringat janji yang pernah Dana ucapakan malam itu, sebenarnya Eno tidak ingin mempertanyakannya pada Dana kapan pertemuan nyata mereka akan terjadi, tapi sebuah dorongan untuk saling bertatap membuat bibirnya berucap pada Dana di pembicaraan melalui telpon malam itu.
“sayang, jadi kesini kapan?”
“uhm, rahasia tah sayangku” goda Dana.
“loh koq gituu sayang inilohh” rengek Eno manja
“hihih, liburan semester satu ini sayang, sayang cepet liber tah. Selesaikan ujian semesternya, pasti aku kabari kapan aku kesana.”
“udah sebulan kita jadian, belum pernah ketemu. Tapi aku udah jatuh cinta sama sayang” gombal Eno pada kekasihnya itu.
“idihh, gombalmuu sayang”
Hari ini hari terakhir Eno ujian semester satu, esok hari ia mulai libur sekolah. Liburan yang cukup panjang, karena bertepatan dengan liburan akhir tahun, bulan pentup 2011. Sekali lagi ia memastikan kapan Dana akan pergi untuk menemuinya. Tapi, belum ada kepastian dari Dana.
Malam itu, iseng Eno membuka akun twitter miliknya, membuka mention di twitternya, terbelalak matanya, bergetar tangannya, hampir saja mulutnya memekik bahagia, tapi di tahannya. Ia melihat mention dari Dana untukknya, kejutan di akhir tahun.
@daanaaArdhaana hey @EnoSulistia, besok sore setelah acara Natal aku  berangkat ke Surabaya.
Diraihnya ponselnya, sesegera mungkin ia menghubungi Qoni untuk membantunya mencari penginapan untuk kekasihnya itu. Janji bertemu dengan Qoni di sepakati keesokan harinya. Malam itu susah sekali mata Eno untuk di pejamkan, di bacanya berkali kalii mention dari kekasihnya itu.
Esok harinya, Qoni sudah datang menjemput Eno untuk mencari sekaligus booking kamar untuk Dana. “eh No, si Gun gabisa ikut sama Dana deh kayaknya, gada uang katae.” Kata Qoni lesu. “lagian susah katae buat izin ke Papa nya”lanjut Qoni. “loh koq gitu toh Qon? Masa gada ongkos? Cuma ongkos deh, nti kamar kan bisa sekamar sama Dana. Lagian makan juga bisa kamu toh yang masak buat dia?” kata Eno tak tega melihat wajah lesu sahabatnya itu.  “Lah itu masalahnya, Gun gada uang sama sekali, gimana yah? Eh emang ongkos pulang pergi Semarang Surabaya berapa?” tanya Qoni. “euhm, 150 mungkin PP. Kenapa ? mau kamu ongkosin?” kata Eno. “iyah No, aku ada uang segitu, tapi Gun mau gak yah?” Qoni ragu akan idenya. “udah, tanya dulu aja, kali aja dia mau. Bilang dia gaperlu susah nyari ongkos buat PP sama makan. Kamu bayari.” Eno berargumentasi. Akhirnya Qoni mengSMS Gun menayakan mau atau tidaknya. Lama. Baru ada jwaban dari Gun, ia mengatakan mau tapi sungkan kepada Qoni.
Setelah mendapatkan jawaban pasti dari Gun, Eno dan Qoni bergegas menuju sebuah penginapan di pusat kota Surabaya. Di pesannya sebuah kamar yang di dalamnya terdapat dua tempat tidur untuk dua orang. Penginapan tua itu cukup nyaman dengan gaya klasiknya, bau perabot rumah yang mulai melapuk tercium sangat khas di kabin penginapan itu sejak Eno dan Qoni menginjakkan kakinya di Penginapan Tua itu. Setelah melihat keadaan sekitar dan mengecek kamar yang akan di booking, Eno dan Qoni sepakat untuk memilih kamar no 6, karena selain tempatnya terlihat nyaman, tempat itu juga tidak jauh dari pintu utama penginapan tersebut.
Kedua gadis itu membawa hati yang membuncah karena rasa senang yang sudah tak kuat lagi mereka tahan untuk di ledakkan. Qoni yang sudah hampir setengah tahun menjalin hubungan dengan Gun, dan Eno yang baru sebulan menjalin cinta dengan Dana, kedua pasangan tersebut belum pernah bertatap muka sebelumnya. Cinta mereka mengalir dalam doa yang berharap bisa menyempitkan jarak diantara mereka. Sebuah kebetulan memang, bagaimana bisa dua gadis yang bersahabat memiliki kekasih yang juga bersahabat. Beruntung.
Dengan perasaan yang tak karu karuan Eno dan Qoni saling berpelukan di bawah Pohon tempat mereka biasa berbagi cerita, pohon itu pohon keramat mereka, tempat dimana banyak cerita canda tawa derai airmata mereka terungkapkan, pohon itu adalah saksi mati yang mengunci persahabatan mereka.
*skip , Semarang 25 Desember 2011.
Usai acara  hari raya Natal di gereja Dana bergegas menuju kerumah Gun, sekedar untuk berbincang tentang keberangkatan mereka sore ini ke Surabaya. Tentang apa saja yang akan di bawa, jam berapa berangkat, dan naik Bus jurusan apa. Jujur saja ini adalah pertama kalinya Dana pergi berdua dengan sebayanya menuju kota yang ia belum tahu telatahnya, dia khawatir akan salah jurusan, tersesat dan sebagainya. Jadi dia mempersiapkan matang matang kepergiannya hari ini.
Menjelang sore, Dana sudah siap dengan tas ransel hitamnya. Di cangklongnya mantap tas itu, ditunggunya kedatangan Gun di tempat mereka janji untuk bertemu. Setelah Gun datang bergegas keduanya menuju tempat pemberangkatan Bus menuju Surabaya. Tak lupa ia sempatkan untuk mengSMS kekasihnya yang sudah menunggu tibanya ia di kota dimana kekasihnya tinggal itu.
“sayang, aku berangkat. Tunggu yah, jangn lupa jemput besok pagi. Hapenya aku matiin, besok kalo udah di Surabaya aku hubungi lagi.” – Dana.
“iyah sayang, hati hati di jalan yah, sayang kamu :*” – Eno.
*skip, Surabaya.
 Sore itu Eno benar benar gelisah, hatinya campur aduk, antara khawatir dan senang. Semalaman dia hanya berdiam diri, menghabiskan waktu untuk menunggu Dana tiba, tidurpun ia tak mampu. Tapi akhirnya lelap pun menyihirnya. Beberapa jam ia tertidur, kemudian ia terjaga dalam bahagia. Di raihnya ponsel di meja belajarnya. Masih tak ada kabar dari Dana. Lama ia menunggu.
Pukul setengah 6 pagi tepat, ponselnya berbunyi.
“sayang, aku udah masuk kawasan Surabaya, sayang siap siap jemput yah.” – Dana.
“iyah sayang, aku siap siap dulu yah.” – Eno.
Eno segera menghubungi Qoni.
“Qon, mereka udah nyampe. Ayo siap siap.” – Eno.
“hush, aku udah di depan rumahmu dul.” – Qoni.
Keduanya bergegas untuk menjemput Dana dan Gun di terminal. Sesampainya di terminal ternyata Dana dan Gun sudah menunggu . terpampanglah dua remaja cowok di hadapan mereka, kedua cowok tersebut memliki wajah oriental, postur tinggi. Dana dengan mata sipit dan kulit sawo matang yang berbeda dengan kaum cina kebanyakan tersenyum melihat gadis asli jawa yang kini berdiri malu malu di depannya. Eno pun hanya bisa tersipu malu melihat Dana yang tak henti hentinya tersenyum dan mulai berani memainkan rambut lusuh Eno. “eh rambutmu iniloh sayang, berantakan” goda Dana.
Keempatnya segera manuju kepenginapan yang terletak beberapa meter dari tempat perhentian mereka. Dana dan Eno mulai akrab, sedangkan pasangan Qoni dan Gun masih malu malu kucing satu sama lain.
Akhirnya tatap mata mereka bertemu, senyum nyata mereka saling berpadu, jemari mereka saling mengisi, peluk hangat mereka saling memberikan perlindungan.

Unbelievable..

Di akhir bulan penutup tahu ini, merupakan hari hari bahagia untuk kedua pasangan beda provinsi ini. Keempat remaja ini menghabiskan 4 hari kebersamaan mereka se efisien mungkin untuk saling memadu rindu.
Hari pertama, mereka habiskan untuk bejalan jalan sekitar kota Surabaya. Hari ini mereka gunakan untuk mengakrabkan satu sama lain. Setelah satu bulan lebih empat hari Eno dan Dana berpacaran, baru hari ini mereka benar benar di pertemukan secara nyata. Tuhan sedang melipat jarak diantara mereka.
Skenario cinta milik Tuhan dimainkan mereka di hari selanjutnya. Pagi itu Eno, Dana, Qoni dan Gun pergi kesebuah air terjun. Di bawah alunan nada indah alam drama Tuhan sedang mereka perankan, Eno dan Dana seperti terhipnotis oleh suasana, begitu tenang dan damai hati Eno dalam pelukan Dana. keduanya seakan tak pernah ingin terpisahkan, alunan gemercik airterjun mengiringi Dana yang menyanyikan sebuah lagu untuk Eno, suaranya yang merdu membuat Eno terbuai, lagi lagi airmata bertetes dalam pipi Eno. Antara perasaan bahagia, sebagian rasa bersalah yang tertinggal karena sempat menyianyiakan  Dana bercampur aduk membuat Eno begitu tersentuh hatinya, di peluknya semakin erat sosok di depannya itu.
Sebuah perasaan yang nyata ia dapatkan, bukan sekedar dari cinta dunia maya. Cinta ini kian nyata dihatinya. Ia tak tahu apa jadinya ia tanpa Dana. Apa jadinya ia jika Dana tak menyelamatkannya, apa jadinya jika ia membuat pilihan yang salah sehingga Dana pergi. Hampir saja Eno tak kan pernah mendapatkan semua ini jika Eno tetap mempertahankan semesta kelam masalalunya, ia takkan mendapatkan dunia berwarna ini tanpa Dana.

UNBELIEVABLE
Always said I would know where to find love,
Always thought I'd be ready and strong enough,
But some times I just felt I could give up.
But you came and changed my whole world now,
I'm somewhere I've never been before.
Now I see, what love means.

It's so unbelievable,
And I don't want to let it go,
Something so beautiful,
Flowing down like a waterfall.
I feel like you've always been,
Forever a part of me.
And it's so unbelievable to finally be in love,
Somewhere I'd never thought I'd be.

In my heart, in my head, it's so clear now,
Hold my hand you've got nothing to fear now,
I was lost and you've rescued me some how-.
I'm alive, I'm in love you complete me,
And I've never been here before.
Now I see, what love means.

When I think of what I have, and this chance I nearly lost,
I cant help but break down, and cry.
Ohh yeah, break down and cry.

Now I see, what love means
.
29 Desember 2011..
Direngkuhnya kembali sosok Dana, di pandanginya cowok cina di depannya. Hari ini Dana dan Gun akan pulang ke Semarang. Helaan nafas Eno terdengar berat, seberat hatinya untuk merelakan Dana pulang. Air matanya mengalir pelan. Di usapnya lembut oleh Dana, di kecupnya pipi Eno hangat, Dana berusaha menenangkan hati Eno, memberikan sebuah janji untuk menemuinya lagi lain hari.
Bus yang akan di tumpangi Dana pun akhirnya tiba, dengan berat hati pelukan hangat itu di lepasnya secara perlahan. Titik air mata muncul di sudut mata keduanya, Dana mulai melangkahkan jengkah demi jengkah kakinya berat menuju pintu Bus, di lambaikannya tangan tanda perpisahan. Dengan alot ia mencoba tersenyum di balik kaca jendela Bus antar provinsi itu. Sekali lagi ia lambaikan tangannya.
Bukankah setiap pertemuan pasti ada perpisahan? Kini jarak mulai memainkan peran antagonisnya. Menciptakan sebuah perjalanan bernama RINDU dan akan berhenti di sebuah pemberhentian bernama PERTEMUAN dilain hari. Cinta mereka begitu mendalam. Mengalahkan jarak dan peran antagonisnya. Kini mereka hanya mampu saling memeluk melalui setiap Do’a mereka.
Cinta mereka akan berlanjut sampai nanti saat takdir memisahkan cinta mereka, jarak bukan segalanya, dan jarak tak mampu untuk menghalangi cinta tulus mereka.
Eno pun menemukan arti cinta dan bahagia dalam persembahan Dana. Dana pun menemukan cinta tulus Eno yang sempat tersembunyi dalam  semesta masalalu Eno.
With love :)
Eno – Dana forever.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar